Pangan Sari Utama (PSU) Harus Terbuka
pada tanggal
Saturday, January 16, 2016

SAPA (TIMIKA) - Pertemuan Koperasi Jasa Usaha Bersama (KJUB ) bersama DPRD dipimpin Ketua Komisi B, Viktor Kabei, Jumat( 15/1) kemarin membahas keluhan KJUB atas eksistensi Pangan Sari Utama (PSU) yang dinilai kurang terbuka.
“Dalam pertemuan KJUB dan DPRD Komisi B ini, merupakan pertemuan awal di tahun 2016 , guna membahas apa yang dinilai KJUB. Bahwa selama ini PSU kurang terbuka , selama ini PSU tidak membeli sayur lokal dengan alasan sayur lokal tidak dapat memenuhi kebutuhan dari PSU. Selain itu, PSU dinilai tidak terbuka soal harga, karena selama ini tidak ada penetapan harga dari pemerintah. Sehingga PSU dengan seenaknya membeli sayur dengan harga yang murah dan petani dirugikan,” ujar Viktor Kabey dalam pertemuan itu
Dikatakan Viktor, mengatakan, keluhan dari KJUB ini nanti pihaknya akan ditampung dan pihaknya akan membahas dan menggodok kembali untuk itu ia meminta agar KJUB dapat lebih bersabar sampai dengan bulan Februari dengan begitu pihaknya akan memberikan jawaban dari hasil pertemuan hari ini
“Saya rasa keluhan ini akan kami tampung dan akan kami godok kembali sehingga saya kasih waktu sampai bulan depan, Setelah itu kita akan fokus untuk lihat dilapangan, kita akan lihat koperasi , mana koperasi yang masih aktif, mana koperasi yang sudah macet dan mana koperasi yang sehat dan tidak sehat , semua itu akan kami kroscek dan akan kami akulasikan dilapangan,” terangnya.
Lanjut Kabei, pertemuan kali ini memang sangat penting karena pertemuan hari ini menyangkut juga dengan dana pembinaan dan bantuan koperasi, karena pihaknya akan melakukan pembahasan, KUA- PPAS.
“Kami akan membahas KUA- PPAS sehingga saya rasa pertemuan ini sangat tepat sekali, artinya kita akan membahas bersama nanti, karena nantinya dewan akan menjadikan ini sebagai ininsiatif sehingga kita tidak hanya ikut-ikutan saja,” terangnya
Dalam pertemuan itu , KJUB yang diwakili Ketua KSU Sari Rasa, H Bahroni mengatakan, selama ini petani lokal selalu saja dipusingkan oleh PSU. Terutama, terkait dengan penimbangan sayur lokal yang tidak lagi berjalan. Kata Bahroni, harga sayur yang murah dan pembayaran yang kurang baik menjadikan petani banyak merugi. Banyak petani yang berfikir untuk tidak menyediakan sayur atau buah lokal, karena takut tidak dapat diakomodir oleh PSU. Selama ini, alasan pihak PSU bahwa, produksi sayur dan buah lokal tidak mampu memenuhi kebutuhan dari PSU
“Selama ini petani ingin memproduksi sayur dan buah dalam jumlah bayak, namun takut tidak dibeli oleh PSU. Sedangkan, kalau beli, harga sayur dan buah dinilai dengan harga yang cukup rendah, “ keluhnya
Dirinya berharap, dengan adanya pertemuan antara KJUB dengan angota DPRD Komisi B ini, nantinya dapat menghidupkan kembali KJUB.
Sementara dari pihak PSU sendiri tak terihat hadir dalam pertemuan dimaksud.
Rencananya, DPRD akan memanggil pihak Koperasi PT PSU dan diharapkan dapat dilakukan pertemuan. Setelah itu, Viktor berharap, hasil dari pertemuan itu dapat disampaikan dalam forum pertemuan KJBU juga. (Indri Yani Pariury)