Home » , » Kisah Para Pejabat Negeri yang Makan Tak Bayar

Kisah Para Pejabat Negeri yang Makan Tak Bayar

Dipublikasikan oleh News-Papua pada Sabtu, 06 Juni 2015 pukul 12.54

Di suatu acara yang dihadiri pejabat, umumnya akan mengundang antusias warga. Kondisi ini dimanfaatkan pedagang sekitar untung menggelar dagangannya.

Rupanya, kondisi ini sering disalahgunakan orang yang tak berduit. Mereka seenaknya makan, tapi setelah kenyang mengaku bayarannya ada di tangan si pejabat.

Pedagang merasa percaya saja dan berharap setelah kunjungan selesai dagangannya akan dibayar. Tapi seringnya yang terjadi, mereka malah buntung karena tak ada yang merasa bertanggung jawab atas makanan-makanan yang dipesan.

Karena tak mau merugi, alhasil pedagang memberanikan diri menagih. Si pejabat terkaget-kaget karena tak merasa mencicip dagangan si penjual.

Siapa saja pejabat yang pernah dituding makan tak bayar?

Ditelusuri dari berbagai sumber, salah satu pejabat yang diketahui pernah makan tak bayar, adalah ketua umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie.

Peristiwa ini terjadi 2013 lalu. Saat itu ceritanya Ical dan sejumlah kader Golkar berkunjung ke Jambi. Jelang sore hari, rombongan makan di sebuah rumah makan Makan Munir.

Selesai makan, rombongan mencoba es tebu milik pedagang kaki lima bernama Acit. Beres menyeruput es tebu, rombongan termasuk Ical langsung pergi begitu saja.

"Padahal, yang pesan es tebu sangat banyak. Ada seratusan gelas," ujar Acit.

Saat itu, kata Acit memang bukan cuma rombongan yang memesan. Tukang ojek pun mengambil kesempatan.

Saat itu Acit melihat seseorang berseragam Golkar. Dia buru-buru menagih. Bukannya membayar, pria itu berdalih bukan panitia.

Dia memberanikan diri mendekati pria berseragam Golkar lainnya. Kali ini, ternyata yang dia datangi caleg DPR RI dari Partai Golkar bernama Pinto untuk menagih pembayaran. Saat ditagih, Pinto hanya membayar Rp 50 ribu. Padahal yang memesan hampir 90 gelas. Meski kesal dia hanya bisa pasrah.

 Tak cuma Ical, baru-baru ini kabar tak sedap itu juga menghampiri Wagub DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat. Djarot dituding tak membayar 15 porsi kerak telor yang dibelinya saat berkunjung ke PRJ Senayan.

Salah satu pedagang, yang tidak mau rugi pun akhirnya meminta kepada pihak penyelenggara yaitu PT Pradana Gransindo Convex untuk segera membayar Rp 300.000. Ketua panitia acara mengaku tidak mengerti perihal keluhan pedagang.

Saat dikonfirmasi, Djarot justru membantah kalau dia telah memesan kerak telor tersebut. Djarot menilai itu hanya ulah orang iseng yang memesan dengan menyebut nama wagub.

"Halah itu kan cuma provokator aja, itu entah kerjaan siapa, biasa orang cari kesempatan," kata Djarot di kantor Balai Kota, Jumat (5/6).

Djarot melanjutkan, saat meninjau PRJ Senayan pekan lalu, dia sama sekali tidak memakan dan memesan makanan khas Betawi tersebut.

"Saya ya tidak pernah pesan kerak telor waktu itu. Provokasi aja itu," pungkasnya. [Merdeka]

0 komentar:

Posting Komentar