-->

Ratusan Umat St Stefanus Ikuti Misa Rekonsiliasi

Warga Toraja dan Maluku saat menari bersama usai misa rekonsiliasi - SAPA / ALLO
SAPA (TIMIKA) – Ratusan umat Paroki St Stefanus mengikuti Misa Rekonsiliasi, di Gereja Katolik St Stefanus, Jalan Busiri, Minggu (12/6).

Misa yang dipimpin Pater Lamberth Nita, OFM  bertujuan untuk memulihkan iman dan batin kedua kelompok warga agar bisa terobati, pasca bentrok di Jalan Pattimura dan Jalan Sam Ratulangi pada akhir bulan lalu.

Prosesi Misa yang berlangsung mulai pukul 08:30 WIT ini diisi dengan berbagai  tarian dan koor dari kedua kelompok, yakni masyarakat Kei dan Toraja. Dimana ada sebuah tarian yang dibawakan secara kolaborasi, yaitu Tari Sawat dari Kei dan Tari  Dero Poso dari Toraja. Selain itu, ada juga lagu pujian yang dibawakan dalam bahasa daerah dari kedua kelompok warga ini.

Sementara itu, Pater Lamberth Nita, OFM dalam khotbahnya mengajak semua Umat Paroki St Stefanus, untuk kembali lebih rajin mendekatkan diri kepada Tuhan melalui doa dalam keluarga, kelompok tempat tinggal, ibadah di gereja, serta membangun hubungan yang intim bersama masing – masing leluhur, sehingga sebagai manusia bisa membaca tanda – tanda zaman.

Dirinya juga meminta, agar sebagai umat beragama harus menjauhkan diri dari berbagai perkumpulan -  perkumpulan yang bertujuan memecah belah, pandai dalam menyaring berbagai isu serta informasi yang menimbulkan konflik, serta bisa mengendalikan emosi dan amarah dalam menghadapi berbagai permasalahan.

“Mari kita bersama-sama menyadarkan diri kita, kembali lebih mempererat hubungan dengan Tuhan, serta membangun hubungan yang intim dengan para leluhur karena sebagai manusia kita akan selalu didampingi oleh leluhur. Ketika Kita semakin mendekatkan diri kepada tuhan, maka kita akan mengetahui tanda – tanda zaman, serta lebih cepat mencium kehadiran Roh Kudus yang dikirim Tuhan kepada kita,” ujar Pater.

Misa ini juga dirangkai dengan pengumpulan dana bagi para korban pertikaian  yang dipandu oleh Penasehat Dewan Paroki St Stefanus Sempan Jhon Rettob.

Pengumpulan dana ini dilakukan dengan menggelar tikar di depan Altar serta diiring dengan tarian kolaborasi yang dibawakan oleh para penari dari Toraja dan Kei. Usai melaksanakan pengumpulan dana, semua umat diarahkan keluar Gereja untuk bersama sama menikmati santapan makan siang bersama yang bertemakan  resepsi perdamaian

“Sebagai  warga Indonesia yang berasaskan Bhineka Tunggal Ika, kita wajib untuk saling bergandengan tangan, bahu membahu dalam membantu meringankan beban bersama. Sebagai umat beragama yang memiliki kepatuhan pada ajaran Tuhan, mari kita secara bersama sama membantu mereka yang di korbankan dalam kesalapahaman yang telah terjadi beberapa waktu lalu,” ujar Jhon Rettob, memberi semangat bagi para umat yang berlalu lalang mengumpulkan dana  diatas tikar persaudaraan yang dibentang di depan Altar.

Sementara, dalam sambutan Kepala Suku Kei, Piet Rafra pada acara resepesi perdamaian mengatakan, pertikaian yang terjadi beberapa bulan lalu bukan merupakan pertikaian yang berlatarbelakang suku, namun merupakan bentrokan yang dilakukan oleh kelompok – kelompok tertentu.

Untuk itu, dirinya mengajak semua masyarakat Kei, agar menjadikan Misa  Sakral yang telah dilakukan di depan Altar Suci Tuhan sebagai acuhan untuk saling menyadarkan diri, serta menjadikan pembaharuan iman dalam menjalani hidup bermasyarakat kedepannya.

“Misa Rekonsiliasi dan resepsi perdamaian ini merupakan kesempatan emas bagi dua kelompok yang pernah terlibat bentrok, sehingga sama – sama menyadarkan diri, bahwa hidup berdampingan itu indah. Saya sebagai kepala suku Kei tentunya tidak pernah menginginkan adanya bentrokan, serta  tidak ingin masyarakat saya terlibat. Oleh karena hal ini maka saya mengajak seluruh masyarakat Kei, untuk saling memberikan arahan – arahan yang positif serta menjaga perdamaian, baik antara sesama suku mau pun dengan suku lain,” ujar Piet.

Sementara itu Kepala Suku Toraja yang diwakili oleh Paulus Sambeko mengatakan, sebagai manusia yang terlahir dan dibesarkan oleh adat istiadat yang kental, masyarakat Toraja akan selalu menganggap masyarakat dari suku lain adalah saudara.

Mengingat hal tersebut, dirinya selaku perwakilan dari para tetua Suku Toraja yang ada di Mimika mengatakan  bahwa, keterlibatan kelompok Toraja dalam bentrokan yang terjadi beberapa waktu lalu merupakan yang pertama dan menjadi yang terakir.

“Saya meminta kepada semua masyarakat Toraja, agar  keterlibatan dalam bentrokan kemarin dijadikan sebagai awal dan akhir, sehingga untuk kedepannya kembali harus menjunjung tinggi adat istiadat kita meski di tanah perantauan. Saya berharap agar setelah Misa Rekonsiliasi dan resepsi perdamaian ini, masyarakat Toraja dan Kei bisa menjadi saudara lagi, sehingga ketika berpapasan dalam gereja bisa saling tegur sapa,” ujar Paulus.

Ketua Dewan Paroki St Stefanus Atanasius Allo Rafra pada kesempatan yang sama mengakui bahwa, bentrokan yang terjadi merupakan akibat dari tidak adanya rasa takut akan Tuhan, serta tidak bisa mengendalikan  diri. Sehingga  dalam kesempatan yang berharga ini, semua masyarakat Mimika harus saling menasehati.

Dirinya juga menerangkan, jangan pernah menyebutkan bahwa konflik yang terjadi merupakan konflik suku, tetapi ini merupakan perbuatan dari individu yang sudah menjauhkan diri dari ajaran  agama, dan jauh dari norma adat.

“Semoga dengan kegembiraan bersama yang telah terjalin di Halaman Rumah Tuhan ini, bisa diwujudkan dalam kehidupan di hari – hari kedepanya. Hari ini (kemarin-red) kita sama – sama saling merasakan keiklasan dalam perdamaian, karena  kita pun hari ini (kemarin-red)  makan bersama dalam satu meja,” tutur Allo. (Cr1)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Iklan Bawah Artikel