Lestari Diharapkan Bermanfaat Bagi Masyarakat Adat
pada tanggal
Friday, January 22, 2016
SAPA (JAYAPURA) - Gubernur Papua Lukas Enembe meminta pelaksanaan program USAID Lestari mengenai pengelolaan hutan secara berkelanjutan, dapat memberikan manfaat bagi masyarakat adat di wilayahnya.
"Program pengelolaan hutan secara berkelanjutan ini harus dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat adat Papua karena warga asli hidup dari hutan ini," katanya, di Jayapura, Kamis (21/1).
Menurut Lukas, hutan Papua yang merupakan salah satu paru-paru dunia harus terus dijaga, pasalnya tidak saja memiliki peran bagi kehidupan masyarakat asli tetapi juga masyarakat Indonesia pada umumnya.
"Masih banyak ditemui kasus pengrusakan hutan dengan menebang tanpa menanam kembali, sehingga diimbau kepada semua pihak untuk dapat menjaga kelestarian hutan," ujarnya.
Dia menuturkan, tantangan terberat yang dihadapi yakni bagaimana mengatasi kemiskinan masyarakat adat yang disebabkan oleh kerusakan hutan ini.
"Dalam Undang-Undang Otonomi Khusus plus sebenarnya banyak mengatur soal hutan, namun hingga kini belum dapat disetujui, padahal pembahasannya membutuhkan waktu yang lama," katanya lagi.
Dia menambahkan pihaknya berharap dengan adanya program Lestari ini, hutan Papua dapat terjaga dan dilestarikan hingga dapat dinikmati sampai generasi penerus nanti.
"Kami memberikan apresiasi juga atas terlaksananya program Lestari ini di Papua, yang mana dapat mengurangi emisi gas yang belakangan menjadi momok menakutkan," ujarnya lagi. (Ant)
"Program pengelolaan hutan secara berkelanjutan ini harus dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat adat Papua karena warga asli hidup dari hutan ini," katanya, di Jayapura, Kamis (21/1).
Menurut Lukas, hutan Papua yang merupakan salah satu paru-paru dunia harus terus dijaga, pasalnya tidak saja memiliki peran bagi kehidupan masyarakat asli tetapi juga masyarakat Indonesia pada umumnya.
"Masih banyak ditemui kasus pengrusakan hutan dengan menebang tanpa menanam kembali, sehingga diimbau kepada semua pihak untuk dapat menjaga kelestarian hutan," ujarnya.
Dia menuturkan, tantangan terberat yang dihadapi yakni bagaimana mengatasi kemiskinan masyarakat adat yang disebabkan oleh kerusakan hutan ini.
"Dalam Undang-Undang Otonomi Khusus plus sebenarnya banyak mengatur soal hutan, namun hingga kini belum dapat disetujui, padahal pembahasannya membutuhkan waktu yang lama," katanya lagi.
Dia menambahkan pihaknya berharap dengan adanya program Lestari ini, hutan Papua dapat terjaga dan dilestarikan hingga dapat dinikmati sampai generasi penerus nanti.
"Kami memberikan apresiasi juga atas terlaksananya program Lestari ini di Papua, yang mana dapat mengurangi emisi gas yang belakangan menjadi momok menakutkan," ujarnya lagi. (Ant)